About Us  
  Franchise Business
  GNE Packages & PQ
  Products
  GNE Activities
  Star Achiever  
   Artikel & Info  
   

customer care customer care customer care

  • Flu Burung
  • Hipertensi Mengancam Dunia
  • Faktor Penyebab Serangan Jantung
  • Sang Virus, Yang Rutin Mengancam Jiwa
  • Air Tanah Kian Menyusut
  • Osteoporosis Menyerang Perempuan Sejak Usia Muda
  • Asma Penyebab Kematian Terbesar Kelima
  • Apa Saja Faktor Resiko Kanker Payudara?
  • Zat Tambahan Pada Pangan, Seberapa Aman?
  • Gemuk Picu Kelainan Testoteron
  • >
    AIR TANAH KIAN MENYUSUT

    Sebagian warga DKI Jakarta dan sekitarnya mengeluhkan air tanah yang kian menyusut. Padahal air tanah masih menjadi andalan sebagian besar warga akan air bersih. Kondisi itu juga terjadi di wilayah selatan Ibu Kota yang selama ini disebut sebagai kawasan resapan air. (Kompas, Jumat, 19 Oktober 2007).

    Warga di kawasan Tegal Parang, Mampang Prapatan misalnya, mengeluh kesulitan mendapatkan air bersih sejak bulan puasa lalu. "Sejak pertengahan puasa, dua minggu pertama, air sudah mulai menyusut sampai akhirnya kering sama sekali," kata Asmani, warga Gang C, RT 08 RW 04, Tegal Parang Utara.

    Tetangga Asmani di sepanjang gang itu pun mengalami kesulitan yang sama. Meskipun sebagian wilayah tersambung dengan instalasi pipa air PDAM, warga mengaku keberatan dengan buruknya kualitas air dan biaya bulanan yang harus mereka tanggung.

    Warga di RT 01 RW 02, Kelurahan Rawa Barat, Kebayoran Baru, juga mulai kesulitan air. Debit air dari sumur pompa semakin mengecil. Untuk mengisi air satu ember saja perlu waktu hingga setengah jam. "Itupun suara pompa sudah berisik, harus cepat-cepat dimatikan. Kalau tidak bisa rusak," ujar Yudi (44).

    Keluhan serupa dirasakan warga Kelurahan Kebayoran Lama Utara. Mulyadi (73), warga di Gang Sarkawi, RT 06 RW 03, mengaku baru memperdalam sumurnya sebelum Lebaran karena kering. Setelah diperdalam 12 meter lagi menjadi 42 meter, air baru keluar. "Sudah 20 tahun saya tinggal disini, baru kali ini (terjadi seperti ini)," ujar Kartini (60).

    Penyusutan debit air tanah juga terjadi di kawasan Setiabudi. Sebagian warga yang menggunakan air PDAM juga mengeluhkan suplai air yang kerap mati atau debitnya sangat kecil. Warga menggunakan air PDAM untuk keperluan mandi dan mencuci, sedangkan air tanah untuk minum. "Mati hidup terus. Airnya juga jelek banget enggak bisa dimasak buat air minum. Air sumur juga menyusut," ucap Nasri (56), warga RT 02 RW 02.

    Tiga Bulan Terhenti

    Pasokan air bersih ke sejumlah desa di Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, malah terhenti sejak tiga bulan lalu. Untuk kebutuhan memasak dan minum, warga membeli air bersih seharga Rp. 1.500 per jerigen dengan kapasitas isi 25 liter.

     

     

    (Isi artikel tidak semua dimuat dan bersumber dari Harian Kompas, Jumat, 10 Oktober 2007).

    HOME

    GNE CAR ACHIEVEMENT
     


    NEWS
     

    PROMO


    TESTIMONIAL
     
    [ Home ][ News ][ Promo ][ Testimonial ][ Success Story ]
    Copyright@2007 PT. GNE Indonesia All Right Reserved